Mengalir seperti air...

 

Terkadang hidup tidaklah harus selalu mengikuti kehendak yang menjalaninya. Karena terkadang hidup mesti berjalan sesuai dengan takdirnya. Apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Malahan jika manusia yang menjalani hidup itu mengubah arah, ia akan tetap kembali ke jalan semula. Tentunya rugi waktu andai saja dia tidak mengubah arah.

Hidup ini seperti air, dia mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tidak dapat dipaksakan dan tidak dapat diubah. Memaksakan untuk mengubah hanya akan menyebabkan kemarahan dan kekecewaan. Ikhlaslah dan lepaskanlah. Sabar dan menerima.

Hal inilah yang tak sengaja saya dapatkan dari prinsip hidup Taoisme yang diajarkan oleh Lao Tzu dari Negeri Tiongkok sana. Hidup tidak memaksa dan selaras dengan alam semesta. Kemarahan dan ketidakpuasan adalah bentuk ketidakikhlasan atas takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Tuhan memiliki skenario terbaik untuk manusia dalam hidupnya masing-masing.

Salah satu ajaran dari Taoisme juga adalah apa yang disebut dengan Wu Wei. Wu artinya "Tidak", Wei artinya "Tindakan" atau "Memaksa". Sehingga terkadang jika manusia tidak berbuat sesuatu atau tidak bertindak sama sekali, itu justru adalah perbuatan atau tindakan terbaik. Karena terkadang masalah dapat terselesaikan sendiri oleh waktu tanpa kita perlu ikut campur menyelesaikannya. Biarkan Tuhan dengan jalannya menyelesaikan masalah itu. Manusia harus ikhlas, sabar, dan berdoa dalam menjalani masalah tersebut.

Ikhlaslah dan bertawakal-lah kepada Tuhan. Tidak perlu terlalu ambisius karena semuanya sudah ditakar sesuai kadarnya. Mengalirlah seperti air. Air coklat hanya perlu didiamkan di dalam bejana selama beberapa waktu agar tanahnya turun ke bawah dan mengendap, sehingga menjadi air yang jernih.

Jika manusia menyadari prinsip hidup ini, dia tidak akan mengalami depresi dan kecemasan. Karena menurut Lao Tzu, manusia yang depresi adalah manusia yang memikirkan masa lalu. Manusia yang cemas adalah manusia yang memikirkan masa depan. Manusia yang tenang dan damai adalah yang memikirkan masa sekarang. Dia begitu menikmati setiap detik dan menit pergantian waktu dalam hidupnya. Baginya hidup sangat berarti dan perlu disyukuri untuk setiap detik dan menitnya.

Hidup mengalir seperti air. Air yang lembut dapat melubangi batu yang keras, jika air itu diteteskan terus menerus pada satu titik. Air fleksibel, menyesuaikan diri sesuai dengan bentuk benda yang menampungnya. Dia tidak melawan, tetapi mengalir dan mengubah sesuai dengan apa yang telah digariskan untuknya.

Mengalir seperti air...

Ditulis di Kambang Iwak, Palembang

Comments

Popular posts from this blog

Perguruan Tinggi Kedinasan

Sepuluh Calon Presiden Potensial di Pemilu 2014

Berbuka puasa dengan laksan...