Berbuka puasa dengan laksan...
Salah satu kebahagian bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka puasa. Mungkin itulah kebahagiaan yang langsung dirasakan di dunia, selain balasan pahala yang akan dirasakan di akhirat.
Salah satu menu buka puasa favorit saya adalah berbuka dengan laksan. Laksan adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari adonan pempek yang dibuat dalam bentuk persegi panjang dengan ketebalan pipih. Diberi kuah santan berwarna orange. Terkadang diberi irisan daun kucai dan bawang goreng.
Menu buka puasa ini banyak ditemui terutama di bulan Ramadhan di kota Palembang dan dijual bervariasi dari harga Rp1.000,00 s.d. Rp2.000,00 per bijinya terutama untuk harga kaki lima. Karena kalau bukan dijual di kaki lima harganya sudah tidak bisa ditakar lagi. Tergantung kualitas bahan terutama bahan adonan pempek yang menjadi bahan pembuatan laksan.
Saya tidak tahu mengapa dan sejak kapan laksan dijadikan menu buka puasa. Setahu saya dalam Islam dianjurkan berbuka puasa dengan yang manis seperti 3 butir kurma. Atau yang lazim seperti berbuka dengan kolak pisang, kolak ubi, atau sop buah. Tetapi mengapa ada kebiasaan untuk berbuka puasa dengan laksan?
Secara bahan laksan kuahnya terbuat dari santan kelapa. Yang setahu saya santan mengandung kolesterol yang tinggi yang tentunya jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak akan mempengaruhi fungsi tubuh sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan. Dari segi adonan pempeknya mengandung ikan dan sagu. Ikan menjadi sumber protein yang baik bagi tubuh. Sagu mengandung karbohidrat yang konsumsinya juga perlu dibatasi agar tubuh tidak mengalami obesitas. Sehingga secara keseluruhan konsumsi laksan untuk berbuka puasa ditinjau dari segi kesehatan masih menjadi tanda tanya.
Namun, di balik itu semua karena sudah menjadi tradisi, tetap banyak orang berbuka puasa dengan laksan termasuk saya. Bahkan di luar bulan Ramadhan juga saya menyukai makan laksan dengan cara unik. Saya melihat cara tersebut dari bapak saya. Kemudian kakak dan saya mencontoh cara tersebut. Yaitu makan laksan dicampur dengan nasi putih. Sehingga kuah laksan terserap oleh nasi menyisakan kuah laksan yang sedikit. Saya kira cara ini normal dilakukan oleh banyak orang, ternyata tidak.
Cara ini pernah saya lakukan ketika saya sarapan dengan makan nasi uduk dicampur laksan di kantor tempat saya bekerja. Banyak rekan kerja saya heran dan menggeleng-gelengkan kepala melihat cara saya makan. Baru saya sadari ternyata cara makan laksan saya berbeda dengan yang lain alias unik. Walaupun begitu saya tidak mengubah cara makan laksan saya. Bahkan tetap saya bawa ketika berbuka puasa ketika masih tinggal dengan mertua.
Ya, begitulah tradisi atau kebiasaan. Sulit untuk mengubah kebiasaan terutama kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak kecil. Kebiasaan itu hanya dapat diubah jika terdapat alasan yang kuat untuk mengubah kebiasaan itu. Atau dengan kata lain, selama kebiasaan itu tidak memiliki dampak buruk secara langsung, manusia cenderung untuk mempertahankan kebiasaan itu.
Selamat berbuka puasa dengan laksan terutama untuk Anda yang berada di kota Palembang.
Comments
Post a Comment