Resensi Film "?"

Produser : Erick Thohir, Talita Amilia, Hanung Bramantyo, Celerina Judisari
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Titien Wattimena
“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
Kutipan di atas diambil dari penutup film “?” karya Hanung Bramantyo. Kutipan ini juga yang menjadi salah satu penyebab kontroversi. Pasalnya, Hanung dinilai beberapa kalangan telah menyebarkan pluralisme lewat filmnya itu. Sementara, ada kalangan lain yang berpendapat bahwa film ini adalah film bermutu dengan sarat pesan.

“?” mengambil latar tahun 2010, di daerah Pasar Baru, Semarang. Daerah ini merupakan permukiman penduduk dari beragam etnis dan agama. Perbedaan dan warna-warni inilah yang ditekankan dalam film tersebut.
Tokoh utama wanita di film ini adalah Menuk (Revalina S. Temat). Dikisahkan, Menuk adalah istri dari seorang pengangguran yang bernama Soleh (Reza Rahadian). Menuk sebenarnya memiliki masa lalu dengan Hendra (Rio Dewanto), anak pemilik restoran tempat Menuk bekerja. Mereka berdua berpisah karena perbedaan agama.
Ayah Hendra, Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman), adalah seorang Tionghoa yang taat pada agamanya dan sangat menghormati agama lain. Tan diceritakan sebagai orang yang sangat toleran: memasak makanan nonhalal di restorannya, tetapi selalu memisahkannya dari masakan halal, sehingga pelanggannya yang muslim tetap bisa makan; membantu saat perayaan Paskah di gereja; menghargai para karyawannya yang kebanyakan muslim dengan memberinya waktu untuk beribadah juga liburan tiap Idul Fitri.
Konflik cerita dibangun antara lain dari ketidaksetujuan Hendra pada kebaikan ayahnya sendiri. Ia menganggap yang dilakukan ayahnya itu tidak mendatangkan keuntungan. Selain itu, ada juga kecemburuan Hendra terhadap Soleh yang berhasil merebut hati Menuk.
Menuk juga bersahabat dengan Rika, seorang muslim yang bercerai dari suaminya dan memilih pindah agama menjadi Katolik. Rika bercerai karena menolak dimadu oleh suaminya. Rika dekat dengan Surya, seorang muslim. Surya adalah seorang actor yang tidak pernah mendapat peran utama dan pada akhirnya ketika ia mendapat peran utama, ia berperan sebagai Yesus dalam drama Paskah di gereja Rika.
Rika sendiri membesarkan anaknya – hasil pernikahan dengan suami terdahulu – dengan didikan Islam, seperti mengaji, puasa, dan lebaran. Padahal, Rika sendiri merayakan Natal.
Lika-liku kehidupan masyarakat yang kental digambarkan dalam film ini memang berpusat pada perbedaan agama dan etnis. Hanung bisa dibilang cukup berani mengangkat tema seperti ini, tema yang bisa jadi belum jamak dianggap layak untuk diangkat, apalagi dengan derasnya perlombaan membuat film yang mengejar balik modal.
Film ini menggambarkan betapa perbedaan bukanlah alasan untuk berhenti berbuat baik pada sesame. Konflik serta cara film ini menyeret emosi penonton untuk naik turun patut diacungi jempol. Beberapa adegan mampu membuat kita marah, sedih, juga terpingkal-pingkal. Sebuah film yang emosional dan penuh pembelajaran.
Alur film ini memang mudah dicerna. Namun, beberapa hal dibuat ‘menggantung’ yang sayangnya, justru bisa menyebabkan salah tafsir. Seperti kejadian perusakan restoran Tan – yang menyuguhkan menu masakan babi – oleh warga karena restoran tersebut buka saat hari kedua Lebaran. Lalu ada juga adegan saat Hen membaca buku Rahasia 99 Asmaul Husna dan berkata kepada ayahnya “… saya mengerti kenapa Papa selalu baik sama orang yang ndak seagama, sekalipun mereka ndak baik sama Papa”. Bisa jadi, Hen mengerti hal setelah membaca buku tersebut, atau malah menyadari akan posisi minoritasnya sebagai seorang Tionghoa yang harus ‘tunduk’ pada mayoritas yaitu muslim. Ada juga keanehan Menuk, perempuan berjilbab yang tidak rishi bekerja di restauran yang memasak daging babi. Hal semacam ini sangat jarang terjadi.
Di luar segala kontroversinya, film “?” ini cukup layak tonton. Lewat film ini, penonton diajak bercermin apakah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan peran-peran di film ini. Atau, mungkin kita menjadi bagian di antara mereka?
Selamat menonton.

Sumber: Majalah Civitas

Comments

  1. afwan...nte orang yang ane bang nugroho...
    dr blog antum, yg ane liat banyak info ke Islamannya, tapi nte malah menyarankan orang untuk menonton film yg penuh dengan racun kekafiran...
    udah jelas ini film mengajarkan yg namanya pluralisme yg memang faham atau ajaran Kafir, yaitu menganggap semua agama itu benar...

    eh nte malah menyarankan orang utk menonton film ini....

    kalo memang nte merasa masih muslim, silahkan segera dihapus resensi film ini...

    karena film ini bukan hanya menimbulkan kontroversi,tapi film ini juga menyebabkan kekafiran bagi yang membenaran film ini atau senang dengan apa yg ada di film ini...

    wallahu a'alm

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah saya dibilang orang aneh. Krn orang aneh itu jarang dan sedikit saingannya. Klo jadi org normal hidup gak seru bro...

    Apakah dg menampilkan resensi filmnya berarti saya menyarankan utk menontonnya?

    Tidak ada hubungan keislaman saya dengan menghapus tulisan ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perguruan Tinggi Kedinasan

Sepuluh Calon Presiden Potensial di Pemilu 2014

Berbuka puasa dengan laksan...