Hikmah Makrab Kelas di Pantai Carita, Anyer

Nenek Gaul
Ketika kemarin bersama-sama teman-teman kelas makrab ke Pantai Carita, Anyer terkesan sekali dengan keindahan pantainya. Butiran pasir-pasir di pantainya sangat lembut serasa duduk di atas kasur saja. Kucoba tanganku untuk mengusapnya dan sangat halus sehalus bulu kucing, kucing yang biasa nongol di kosanku entah siapa pemiliknya. Butir-butir pasir ini tentunya tidak tercipta dengan sendirinya. Aku berpikir mungkin mereka tercipta dari hasil hempasan dari gelombang air laut kepada bebatuan karang, kalau benar ya memang begitulah.
Duduk di atas pasir pantai dan melakukan sedikit pengamatan. Gelombang air laut yang datang ke pantai tak pernah bosan-bosan untuk berlari berulang-ulang dari laut ke pantai, dari laut ke pantai, begitu seterusnya berulang-ulang. Sampai bosan aku melihatnya.
Kadang gelombangnya kecil, sehingga membuat kakiku geli keenakan diterjang gelombang air laut serasa refleksi pijatan. Kadang kala juga gelombangnya besar, sehingga tak jarang membuat adrenalinku naik ke dada dan menimbulkan kecemasan. Beberapa kali juga aku terseret atau sengaja menyeretkan diri oleh gelombang air laut. Butiran pasirnya masuk ke telinga dan mungkin beberapa tegukan air laut yang asin kuminum. Asinnya minta ampun. Mataku juga perih karena terkena air asin, maklum tidak biasa jadi anak pantai. Semuanya karena konsistensi gelombang air laut yang kelihatan membosankan bagi dia tapi bagiku penuh dengan makna.
Batu karangnya pun gak ngambek walaupun terus ditampar atau digampar (gak tahu mana yang benar) oleh gelombang air laut. Bahkan ia kelihatan gagah sekali ketika diserbu dan ditenggelamkan gelombang air laut kemudian ia muncul lagi tanpa mengubah posisinya sama sekali. 
Dari dua makhluk ciptaan Allah inilah aku belajar mengenai satu hal, yaitu konsistensi. Aku tidak tahu sejak kapan batu karang di Pantai Carita, Anyer itu duduk di sana. Mungkin sebelum aku lahir, atau mungkin sebelum ayah ku lahir, atau bahkan sebelum kakekku lahir, gak tahu, gak penting, yang penting dia istiqomah duduk di sana.
Untuk menjadi istiqomah (gak tahu nama orang yang istiqomah disebut apa) bukanlah pekerjaan yang gampang, dia harus dilatih dan ditekadkan. Ngomong sich bisa, nenek-nenek salto pun bisa ngomong istiqomah, tapi merealisasikannya itu loh susah. Dan aku setuju dengan metode ini: karakter dibuat oleh kebiasaan, kebiasaan dibuat oleh kegiatan yang dilakukan berulang-ulang. Maka, kalau pengen dikenal sebagai orang yang istiqomah ya lakukan saja perbuatan-perbuatan yang kita lakukan berulang-ulang, tentunya perbuatan baiklah.
 Untuk istiqomah juga dapat dirancang dengan memperteguh komitmen untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dalam kuantitas dan waktu tertentu. Kalau masalah kualitas itu naik turun, fluktuatif kadang tinggi kadang rendah. Namun, kita harus mengerjakan aktivitas tersebut entah peduli amat dengan fluktuatif hati kita. Hikmah ini saya dapatkan dari kewajiban sholat yang lima itu setiap hari tanpa memperdulikan bagaimana keimanan kita. Coba kalau sholat gak diatur kapan dan jumlahnya, pasti kita akan sholat ketika iman lagi tinggi saja. Alasan sholat ada kuantitas dan waktunya adalah walau kita lagi tinggi atau rendah ya tetep harus sholat, sehingga kita konsisten, sehingga kita istiqomah ini metodenya. So, buatlah timeline untuk mengerjakan aktivitas-aktivitas baik kita secara berulang-ulang untuk kita lakukan yang Insya Allah akan mengistiqomahkan kita.
Nah, yang paling susah ni menjaga komitmennya. Kadang anget-anget tahi ayam. Di awal panas membara, selanjutnya loyo gak ketulungan. Mungkin metode untuk selalu mengingat tujuan dan capaian dapat digunakan. Ketika loyo ingatlah kita mau ngapain sich ngerjain begini-begini. Kalau tujuannya baik dan sesuai dengan hati nurani dan kita ada passion untuk meraihnya Insya Allah akan semangat lagi.
Terakhir, ngomong sich gampang, praktik yang susah. Semua orang bisa ngomong istiqomah, nenek-nenek main hulahop juga bisa ngomong istiqomah, realisasi yang susah, termasuk orang yang ngetik ni. Tapi, azzam harus terus membahana (kayak lagu nasyid aja), masak kalah sama gelombang air laut, sama karang sich. Insya Allah, Allah dan Rasul-nya melihat segala aktivitas kita.
Wallahu'alam.

Sumber: Lubuk hati nurani Andri Nugraha

Comments

Popular posts from this blog

Perguruan Tinggi Kedinasan

Sepuluh Calon Presiden Potensial di Pemilu 2014

Berbuka puasa dengan laksan...