Siksaan Mengerikan untuk Akh Muhammad Hilmi Mukmin
Di sini aku mengutip sebuah peristiwa dari kitab Al-Ikhwanul Muslimun: Ahdats Shana'at Tarikh karya Ustadz Mahmud Abdul Halim, jilid ketiga:
"Kami uraikan di sini kisah tentang saudaraku yang mulia saat ia masih berada di usia yang sangat belia.
Ia dihantui rasa takut dan ngeri akibat apa yang dilakukan para militer penjara yang kejam saat menyiksa para Ikhwan.
Al-Akh Muhammad Mukmin, ia salah satu Ikhwan dari Dimyath, menyaksikan peristiwa yang sangat mengguncang jiwanya, menggetarkan hatinya.
Dan itu ia alami secara berulangkali dalam frekuensi yang cukup sering.
Akhirnya ia tidak kuat lagi melihat kekejaman yang terjadi di depan matanya sendiri.
Ia pun bertekad untuk menahan penyiksaan yang berulangkali ia lihat sendiri.
Atau, bila tidak ia rela mati untuk menahannya.
Pemandangan yang sangat mengerikan baginya adalah ketika seorang militer penjara meminta para Ikhwan untuk memukuli muka Ikhwan yang lain dengan cara yang kejam.
Jika para Ikhwan menolaknya, maka ia akan mendapatkan penyiksaan yang luar biasa beratnya.
Al-Akh Muhammad sudah memiliki tekad bulat yang memenuhi seluruh jiwanya.
Ia semakin tak kuat menahan kemarahan dan kebenciannya ketika pimpinan penjara menginstruksikan agar para Ikhwan tidak diberi jatah air minum di siang hari.
Peraturan baru yang gila ini bahkan hampir saja ditambah dengan larangan para Ikhwan membuang hajat di siang hari ke kamar mandi.
Dalam suasana kesedihan seperti ini, salah seorang Ikhwan yakni Al-Akh Hasan Abdul Fatah, Ikhwan dari Kardasah, dan juga salah seorang teman Al-Akh Muhammad Mukmin di sel penjara, bisa memperoleh air sedikit.
Tapi saat ia berada di kamar mandi, ia ditangkap oleh seorang militer penjara dan air yang sedikit itu diambil kembali.
Hukuman yang diberikan oleh militer itu benar-benar tidak terbayangkan.
Seluruh rekan-rekannya satu sel diperintahkan untuk keluar dan memukuli muka Al-Akh Hasan Abdul Fatah dengan keras.
Kebetulan Al-Akh Muhammad ada di urutan pertama yang harus memukul.
Ia menolak perintah pemukulan itu.
Maka, si tentara menyiksa dan memukulinya seperti biasa.
Al-Akh Muhammad melawan pemukulan tersebut dan terjadilah perkelahian yang berakhir hingga tentara terpuruk di atas lantai penjara.
Al-Akh Muhammad berniat ingin membunuh tentara tersebut untuk membela kemuliaan manusia yang telah diinjak-injak oleh tentara tersebut, tetapi para Ikhwan berusaha melerai dan menghalanginya.
Sementara itu, suara gaduh mengundang datangnya pasukan yang lain ke tempat kejadian.
Mereka serta merta mengeroyok Al-Akh Muhammad untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya atas apa yang ia lakukan pada rekan tentara penjara tadi.
Al-Akh Muhammad diringkus dan dibawa ke tempat tersembunyi.
Pasukan militer penjara berupaya mengikat kedua tangannya, tetapi Al-Akh Muhammad menolak ikatan itu seraya berkata:
"Aku akan tetap ada di sini tanpa ikatan. Silakan kalian pukul aku sepuasnya!"
Akhirnya Al-Akh Muhammad Mukmin pun dikurung dalam sebuah ruangan.
Semua tentara di penjara perang memukulinya dengan cambuk dan pentungan kayu yang kasar.
Mereka terus menerus memukuli Al-Akh hingga mereka sendiri letih memukulnya.
Mereka lalu membuang cambuk dan tongkat yang ada di tangannya sambil keheranan.
Mereka heran karena setelah semua pukulan 'gila' itu, Al-Akh Muhammad tidak sedikit pun berteriak atau mengeluarkan kata 'Ah'.
Hal itu yang semakin membuat mereka putus asa memukuli Al-Akh Muhammad.
Kami para Ikhwan juga sangat kagum dengan kesabaran dan kekuatan Al-Akh menerima pukulan bertubi-tubi dan mematikan seperti itu tanpa berteriak atau mengatakan 'Ah'.
Al-Akh Muhammad lalu mengatakan bahwa pada awalnya ia sudah menyiapkan diri untuk mati akibat sikapnya melawan tentara penjara.
Tapi ternyata ia tidak sampai mati, karena itu ia merasa tidak disentuh oleh rasa sakit saat menerima pukulan demi pukulan.
Para penjaga penjara itu tampaknya yakin bahwa Al-Akh Muhammad Mukmin termasuk wali Alloh, sehingga ia tak merasakan sakit saat dipukul.
Bahkan mereka yakin bila mereka tidak meminta maaf dan meminta ampun pada Al-Akh Muhammad maka mereka akan mendapatkan bencana yang buruk.
Akhirnya, para tentara itu berdatangan ke sel, sementara Al-Akh Muhammad masih terbaring dengan darah yang masih berlumuran di tubuhnya.
Mereka semua meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan dan mendatangkan dua orang dokter yakni dr. Ahmad Malath dan dr. Kamil Salim untuk mengobati luka-luka Al-Akh Muhammad."
Di sini aku ingin mengomentari perkataan Al-Akh Mahmud Abdul Halim soal keyakinan tentara terhadap Al-Akh Muhammad Hilmi Mukmin yang disebut sebagai wali Alloh dalam peristiwa itu.
Aku katakan bahwa secara akal itulah yang disebut wali dari wali-wali Alloh terkandung dalam makna wali dalam Al-Qur'an, bukan wali dalam makna khurafat yang banyak dipahami kaum Muslimin.
Semua mukmin yang bertakwa adalah wali di antara wali-wali Alloh.
Bagaimana Al-Akh Mukmin bukan menjadi wali di antara wali-wali Alloh, karena dia telah merelakan balasan Alloh dari apa yang ia lakukan, ia telah ridha dengan Al-Qur'an sebagai prinsip dan manhaj hidupnya, dengan Rasul sebagai teladan dan pimpinannya, dengan jihad sebagai jalannya.
Dan ia telah teguh di atas prinsip itu serta bersabar atas apa yang ia terima di jalan Alloh.
Alloh SWT berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (Q.S. Yunus: 6)
Demikianlah, setiap kali kami melewati suasana tenang kami memuji Alloh atas karunia dan keselamatan yang Ia beri atas kami.
Tapi ketika mereka mengetahui hal itu, mereka secepat mungkin menghilangkan ketenangan itu dari kami.
Yang tersisa adalah api yang berkobar-kobar dan mereka terus menerus melemparkan kayu bakar ke dalam api itu.
Sampai tak ada kayu bakar yang tersisa kecuali menjadi abu.
Dikutip dari buku Aku dan Al-Ikhwan Al-Muslimun, sebuah otobiografi karya Dr. Yusuf Qardhawi, semoga Alloh SWT mencintainya.
Wallahu'alam.

Comments
Post a Comment