Potret Gayus Tambunan
Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan. Namanya meroket bak artis di siang bolong. Bahkan kasusnya menenggelamkan kasus besar, seperti Kasus Bank Century. Tiada sehari pun pemberitaan di media tanpa pemberitaan kasusnya. Sensasi yang dibuatnya sangat menghebohkan. Seorang pegawai Dirjen Pajak golongan IIIA bisa melakukan tindakan korupsi puluhan miliaran Rupiah. Fenomenanya dimulai ketika dia mulai terendus oleh Satgas Mafia Hukum. Gayus pun melarikan diri ke Singapura. Ketika Gayus melarikan diri ke Singapura, kita mungkin sama-sama putus asa untuk menangkapnya. Maklum, Singapura tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Publik ramai sudah banyak memprediksi bahwa masalah Gayus akan berakhir seperti kebanyakan koruptor-koruptor lain yang kabur ke Singapura yang tidak dapat ditangkap dan Sang Koruptor aman dan dapat menikmati harta hasil korupsinya dengan tenang di negeri singa itu.
Namun, publik salah. Pada saat itu datanglah Satgas Mafia Hukum untuk menjemput dan membujuk Gayus pulang ke Indonesia. Gayus pun berhasil dibujuk. Satgas pun seolah-olah menjadi pahlawan, tetapi pada dasarnya pelarian Gayus ke Singapura atas saran Satgas. Satgas ingin mengambil nama dan memperlihatkan kepada masyarakat bahwa mereka bekerja. Itu menurut salah satu versi. Kedatangan Gayus dari Singapura ke Indonesia diliput oleh banyak media. Seperti biasa ekspresi Gayus tetap dengan muka tanpa bersalahnya. Gayus pun menyerahkan diri ke kepolisian. Sementara itu Satgas hilir mudik diwawancarai oleh berbagai media, tentunya yang ingin diketahui oleh masyarakat adalah mengenai teknik yang dipakai oleh Satgas untuk membujuk Gayus. Sebenarnya tidak ada yang special dari cara Satgas membujuk Gayus, karena menurut sebagian versi ini hanyalah konspirasi.Setelah mendekam beberapa bulan di penjara, Gayus pun berulah lagi. Dia tertangkap kabur dari penjara sedang menonton pertandingan tenis internasional di Bali. Gayus menyamar dengan samaran yang cacat dan fotonya berhasil oleh wartawan dan menjadi bukti awal bahwa Gayus benar-benar kabur dari penjara. Gayus diduga menyogok petugas sipir di penjara, agar dapat keluar dari penjara dan pergi libur ke Bali. Atas fenomena ini lagu “Andaiku Gayus Tambunan” pun terangkai. Hal ini menambah luka yang mendalam di hati masyarakat akan ketidakadilan hukum di negeri ini. Seolah-olah hukum hanya berlaku bagi sebagian orang dan tidak berlaku bagi sebagian yang lainnya.
Gayus Tambunan kalau boleh saya gambarkan adalah seseorang yang memiliki kemampuan berdiplomasi yang tinggi. Itu terlihat bagaiman dia bisa menjerumuskan beberapa Wajib Pajak besar untuk menggunakan jasanya. Diplomasinya bisa dilihat bagaimana ia mampu menego sipir penjara, sehingga dia bisa melenggang berlibur ke Bali. Gayus Tambunan juga merupakan orang yang cerdas. Kalau tidak cerdas mengapa dia bisa mengelabui hakim dan jaksa serta memutarbalikkan peraturan perpajakkan demi keuntungan kliennya. Oleh karena sifat-sifat itulah, Gayus berhasil mengeruk miliaran uang hasil korupsi.
Gayus Tambunan adalah jebolan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang menurut sebagian orang memiliki kompetisi yang tinggi untuk masuk, belajar, dan lulus dari sana. Pelajaran apa saja yang diajarkan oleh STAN, sehingga bisa memproduksi Gayus Tambunan? Kita tidak dapat menunjuk langsung bahwa terciptanya Gayus Tambunan ada korelasinya dengan penyelenggaraan pendidikan di STAN. Sama-sama kita tahu, mahasiwa yang belajar di STAN memiliki keberagaman, baik itu keberagaman daerah, agama, bahasa, dan tentunya keberagaman pola pikir, karakter, dan sifat. Dan potensi-potensi keberagaman inilah yang harusnya dibentuk oleh suatu sistem pendidikan di STAN yang dapat mengintegrasikan Imtak dan Iptek.
Imtak merupakan singkatan dari Iman dan Takwa. Kata Iman dan Takwa sudah tidak menjadi milik kelompok agama tertentu saja karena kata-kata tersebut sudah menjadi bahasa Indonesia dan dimiliki oleh semua agama. Karena Imtak sudah tidak menjadi domain satu agama saja, semestinya penerapannya dilakukan oleh semua kelompok agama, sedangkan Iptek yang sama-sama kita tahu adalah singkatan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ada sedikit pemahaman yang salah di tengah masyarakat memahami hubungan antara Imtak dan Iptek. Kebanyakan orang memandangnya sebagai sesuatu yang saling bertentangan dan tidak dapat diselaraskan. Ketika berbicara Imtak, orang menghubungkannya dengan urusan keakhiratan dan ketika berbicara Iptek, orang menghubungkannya dengan urusan keduniaan. Seolah-olah imtak dan iptek adalah sesuatu yang berbeda dan bertolak belakang sama sekali. Pemahaman yang sempit inilah yang akhirnya menelurkan Gayus Tambunan. Imtak dan Iptek itu seharusnya diintegrasikan menjadi suatu perwujudan sikap yang paripurna dari seorang manusia. Dia tidak bisa berjalan sendirian. Jika iptek maju, tetapi imtaknya jeblok itu hanya akan menciptakan koruptor-koruptor baru. Imtak maju, tetapi iptek jeblok berarti dia belum ber-imtak dengan benar. Karena imtak sendiri menghendaki ada keseimbangan antara imtak dan iptek. Salah satu hal yang membuat pemahaman imtak di tengah masyarakat akhir-akhir ini mulai tergerus karena paham pemisahan dan pengkotak-kotakkan antara urusan imtak dan urusan iptek. Ketika berbicara iptek kita dilarang bicara imtak begitupun sebaliknya. Sekat-sekat dan tembok-tembok antara imtak dan iptek harus dihancurkan dan diruntuhkan. Biarlah keduanya bersinergi dan membentuk keuniversalitasan. Karena memang sifat aslinya universal. Akan begitu bangganya orang tua jika memiliki anak yang selain cerdas, berbakti kepada kedua orang tua, dan juga beriman dan bertakwa kepada Tuhannya. Mana ada coba orang tua yang bangga punya anak yang walaupun IP-nya cumlaude, IQ-nya tinggi, tetapi sama orang tua kurang ajar dan termasuk anak yang suka mabuk-mabukkan.
Apakah bisa? Mengapa tidak, tentu saja bisa. Banyak alumni-alumni STAN yang berhasil menyelaraskan antara imtak dan iptek. Banyak alumni-alumni kita yang tidak tergoda korupsi dan bahkan berhasil menguak kasus-kasus korupsi besar. Itu semua lahir dari pengintegrasian imtak dan iptek yang baik dalam diri.

Comments
Post a Comment